DUA REKTOR YANG
INSPIRATIF
Tanpa terlalu banyak basa-basi.
Sungguh, saya dibuatnya terkagum-kagum oleh dua sosok hamba Allah ini, yang
hidupnya penuh dengan amal kreativitas dan inovasi yang inspiratif. Di tengah
kesibukannya menahkodai perguruan tinggi besar, menjadi maklum jika kemudian
dua sosok hamba Allah tersebut waktunya terpadatkan oleh seabrek tugas
kedinasan ataupun yang bersifat akademis lainnya. Akan tetapi, mesti sudah
menjadi maklum, dua sosok hamba Allah ini tetap menempatkan tugas yang
diembannya dengan proporsional dan jauh dari kata “manja”. Beliau berdua adalah
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Prof. Dr. Nur Syam. Pak Komar merupakan Rektor
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sedangkan, Pak Nur merupakan Rektor IAIN
Sunan Ampel, Surabaya.
Awal mula keterkaguman saya
membenak, juga karena menemukan dua benda yang penuh ilmu; buku. Ya, benda itu
adalah buku. Keterkaguman terhadap Pak Komar membenak saat membaca bukunya yang
terbaru “Agama Punya Seribu Nyawa”
(2012) dan Pak Nur sendiri atas bukunya “Agama
Pelacur” (2011).
Mengapa saya terkagum? Sekurangnya,
karena sejak saya tahu dan berhasil memakan bangku kuliah, yang membesit
dibenak saya, tatkala mendengar lalu menggambarkan istilah Rektor adalah sosok
manusia yang gagah berdasi, bergelar Profesor, kepalanya botak, punya banyak
asisten, mobilnya mewah, yang kesibukannya seabrek (sampai-sampai lupa pada
mahasiswa) dan seterusnya. Sejauh perjalanannya hingga saat ini, anggapan saya memang
ada benar dan ada kelirunya. Namun entah kenapa, saya meyakini yang punya porsi
besar justru yang benar dan sesuai. Karenanya, mohon dimaafkan barang kali saya
terlalu berburuk sangka.
Lagi-lagi entah kenapa, ketika
saya melihat dua sosok Rektor ini, pikiran dan hati saya terenyuh tak terkira. Tapi
sebelumnya, perlu diketahui, bahwa saya belum mengenal kedua sosoknya itu
secara pribadi. Tapi biarlah, cukup saya yang mengenal beliau-beliau dari jauh,
karena hal ini saja adalah nikmat-Nya yang terasa dekat tak terkira. Semoga
suatu saat nanti saya betul-betul bisa
berjumpa dan bertegur sapa dengan beliau-beliau. Amin.
Baik saya teruskan. Beberapa
sebab kenapa kemudian, saya tiba-tiba tergerak untuk menulis esai ringan ini,
sekurangnya adalah pertama, meski
keduanya Rektor sebuah perguruan tinggi besar dan terkenal, keduanya justru
tidak melupakan profesinya sebagai dosen dan akademisi. Saya bisa melihatnya,
dari karya-karya beliau, terutama yang berbentuk kolom-kolom esainya di
pelbagai media cetak dan buku. Entah berapa banyak esai dan buku yang sudah
keduanya tulis.
Kedua, seperti tadi sudah
dikemukakan, bahwa meski keduanya Rektor, mereka justru tidak “manja”. Keduanya
jauh dari istilah tak mau berkaya, tak produktif, tak ada kreativitas. Biasanya,
saya menduga seorang Rektor akan berkilah dengan alasan; “tugas saya sudah lain, bukan untuk menulis lagi seperti waktu muda,
kini saatnya kalian yang muda untuk melakukan hal itu, saya sudah harus konsen
pada tugas kepemimpinan sebagai Rektor kalian, dan seterusnya”. Bawel. Jadi,
saya amat yakin keduanya ini jauh dari kata “manja” dan bawel.
Dari esai ringan yang saya
tulis ini, sekali lagi saya amat kagum kepada keduanya. Di tengah kesibukannya
sebagai Rektor, keduanya senantiasa menebarkan dan menggali kelimuan yang amat
luas dan dalam itu untuk agama dan kemanusiaan.
Terlihat jelas misalnya, dalam buku “Agama
Punya Seribu Nyawa-nya” Pak Komar, adalah berupa percik pemikiran yang amat
berguna bagi masa depan agama dan kemanusiaan. Keterpanggilan dan kepeduliannya
terhadap upaya rekonstruksi cara pandang keagamaan dan kemanusiaan, nyaris tak
ada yang menyangsikan. Memberikan teladan, untuk senantisa mengabdi pada
Negara-bangsa dan Islam Indonesia yang inklusif.
Percik pemikirannya terus
memancarkan cahaya dan butiran mutiara, yang senantisa mencerahkan dan
menggugah nurani. Pembelaannya terhadap anugerah kebebasan adalah merupakan
jangkar pikir rasionalnya dalam memahami kehidupan sosial-agama. Namun, di saat
yang bersamaan senantiasa menjunjung tinggi khazanah budaya lokal dan tak
kehilangan nilai-nilai kemanusiaan universal. Di saat nuansa keagamaan penuh
dirundung nestapa, kekerasan dan keterputusasaan, Pak Komar melalui tulisannya
membuktikan bahwa agama yang dipeluk manusia hakikatnya untuk mennghadirkan
rasa aman, damai, dan optimisme.
Adapun yang unik dari buku
terbarunya Pak Nur Syam “Agama Pelacur”,
adalah telah berhasil mendobrak pintu ketabuan dan diskriminatif atas bangunan
perspektif masyarakat arus utama terhadap perempuan pelacur atau pekerja seks
komersial (PSK). Seorang Rektor, dengan niatnya yang tulus disertai keberanian,
menerjunkan dirinya pada lembah yang selama ini dicap oleh masyarakat sebagai
lembah yang hitam legam; lembah hitam lokalisasi PSK. Beliau tidak terjebak
pada latahisme; sumpah serapah terhadap PSK—sebagai manusia yang dilaknat Tuhan
dan mesti diberantas keberadaannya—sebagaimana biasa menggejala di arus utama
masyarakat.
Beliau melakukan penelitian
secara jentel, berani berhadapan dengan banyak PSK, bukan untuk “memakainya”
dalam maksud yang negatif, melainkan senantisa memakainya dengan penuh rasa
empati, untuk mengetahui sisi hidup, hati dengan perspektif kemanusiaan. Ini
begitu terasa, dari gaya bahasa dan tutur dialog beliau di bagian akhir buku ini.
Yang mengantarkan dan membuktikan bahwa seorang PSKpun punya agama dan Tuhan. Maka,
memanusiakan PSK adalah seyogia.
Bagi saya, kisah hidup kedua
Rektor ini sangat inspiratif, terutama berkenaan dengan ghirahnya untuk
senantiasa terus berpikir dan berkarya. Karenanya, manusia tak diperkenankan
larut dalam rasa puas dan aman yang berlebih, manusia mesti terus mencari dan
mencari kehidupan yang hakikat. Menjadi manusia yang pandai bersyukur,
mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan. Menjadi manusia yang rendah diri dan
tidak sombong, serta memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap keilmuan.
Menjadi Rektor adalah amanah.
Amanah menjadi Rektor sejatinya bukan untuk berbangga diri, apalagi melupakan
tugasnya sebagai mitra bestarinya; mahasiswa, dosen, staf, dan segenap
civitaanya yang lain. Menurut saya, menjadi
Rektor adalah bukan merupakan amanah yang mudah. Dalam halnya yang paling
sederhana, Rektor mesti bisa menahkodai perguruan tingginya ke arah yang lebih
baik, tetapi di saat yang bersamaan tak diperkenankan meninggalkan fitrahnya
sebagai seorang akademisi dan intelektual. Ia harus senantiasa menjadi mitra
bestari civitasnya dengan “mesra”, terlebih dengan para mahasiswanya.
Ya, menjadi Rektor semestinya,
merupakan amunisi untuk dapat lebih mengerat hubungannya dengan para
civitasnya, terutama mahasiswa. Bukan malah menjauh dan seakan cenderung
mengacuhkannya. Menjadi sosok yang semakin jauh dari teladan bagi mahasiswanya.
Karenanya, menjadi teladan baik bagi segenap civitas akademikanya, adalah
sebuah amanah yang harus menjadi prioritas Rektor.
Demikian, catatan atas
keterkaguman saya terhadap kedua Rektor perguruan tinggi ini. Sebetulnya banyak
Rektor-rektor yang juga inspiratif; Prof. Dr. Amin Abdullah (Rektor UIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarta), Prof. Dr. Imam Suprayogo (Rektor UIN Maulana Malik
Ibrahim, Malang), Dr. Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina, Jakarta),
dan sederet nama-namanya yang lain. Yang dimensi inpiratifnya itu sekurangnya merupa
keberhasilannya membangun peradaban kampus yang progresif di satu sisi, dan
membangun tradisi intelektual kemanusiaan, di sisinya yang lain. Harapan saya
tentu saja menuju pada segenap Rektor dengan apapun perguruan tinggi yang
dinahkodainya, untuk senantiasa menjadi inspirasi bagi civitas akademika dan,
terutama bagi mahasiswa-mahasiswanya. Catatan ini juga seyogia, untuk menjadi
bahan permenungan dosen-dosen perguruan tinggi manapun, agar senantisa menjadi
produktif dan progres. Wallahu ‘alam bi
Al-Shawab.


0 komentar:
Post a Comment